after watching new moon -tentang luka, pengalihan dan masa depan-

keinginan menonton The Twilight Saga: New Moon sebetulnya nyaris nihil. Komodifikasi sekuel ini terlalu hingar bingar, menciptakan kemualan. Tapi berhubung enggak banyak film bagus yang bisa ditonton akhir pekan lalu, maka New Moon pun jadi pilihan -dengan sedikit doa agar bisa bertahan di dalam bioskop-

dan jreng!
dugaan saya keliru. Sebagai sekuel, New Moon lebih baik daripada Twilight.

Meski Leila Tempo menyebut Edward Cullen(Robert Pattinson) cuma bisa pose dan Bella Swan(Kristen Stewart) hanya mampu melenguh, mendesah dan menjerit ketakutan saat mimpi buruk melandanya bermalam-malam.

Meski film ini begitu dikritik dengan menampilkan sosok Bella yang terlalu menafikan nilai feminisme dan menjadi contoh buruk bagi abg perempuan dalam mencintai seorang lelaki.

Dan seribu meski itu, justru membuat saya melihat sisi manusiawi film pemuas hormon(lagi lagi mengutip Leila) karena menampilkan tubuh kekar yang menawarkan aura perlindungan dari seorang Jacob Black (Taylor Lautner). Sisi manusiawi itu sesungguhnya telah dibahasakan dengan rapi dan detil oleh Isyana MI, dan saya membuktikannya dengan menonton.

Adegan dibuka dengan mimpi Bella yang hari itu berulang tahun ke 18. Ia mimpi, bersama Cullen, di padang rumput luas bertemu nenek Bella. Tapi akhir mimpi itu menakutkan -mungkin juga menyedihkan-
karena perempuan tua yang dikira si nenek itu ialah diri Bella sendiri, dalam cermin. Sedangkan disebelahnya, Cullen berdiri gagah, masih dengan wajah yang sama dan awet muda di usia 17 tahun karena ia vampir. 100 ataupun 200 tahun tidak akan berefek pada segaris pun kerut.
Ketakutan menjadi tua, dengan kekasih yang terus tampak muda dan menawan, bukankah manusiawi?

Lalu, ketika Cullen meninggalkan Bella, dan remaja itu mimpi buruk bermalam-malam, berkepanjangan, bukankan itu juga wajar terjadi? paling tidak, itu bukan khayalan berlebihan penulis Stephanie Meyer. paling tidak, saya mengalaminya.

Dan kemudian, ketika Bella menjadi pecandu adrenalin, -karena ia merasa didatangi Cullen ketika hidupnya dalam bahaya dan nyawa diujung tanduk- bukankah kita membutuhkan pengalihan saat patah hati. Beberapa orang memiliki hobi baru, lainnya memilih menjadi workaholic, dan sisanya, berjuang melewati waktu dengan apapun yang bisa mengalihkan pikiran mereka dari rasa sakit itu.

Bukankah kita, pada kenyataanya, memang menjadi melodramatis karena cinta? terlalu lemah, menye-menye, dan kelelahan berjuang dari patah hati yang akut?

Di akhir cerita, Bella memang memilih Cullen.

Meski Charlie, ayahnya mengingatkan sebuah konsep hubungan cinta yang sehat, yang tidak menyakitkan dan menenangkan.

Meski sosok Jacob Black sudah begitu sempurna dengan perhatian yang indah, obrolan bercampur guyon yang menyenangkan, tubuh sehat pria dewasa yang kekar dan -oh! sangat YUMMY!-

Penyebabnya? apalagi kalau bukan perkara formulasi kisah best seller yang harus happy ending, yang harus memperjuangkan cinta, Oh whatsoever!

Tapi, barangkali, happy ending bisa dimaknai berbeda. Selalu ada cara untuk menang dari pergulatan itu.

Setelah setahun berjuang lepas dari pikiran yang menganggu, pelan-pelan toh hidup terus berjalan. Tidak memburuk juga. Beberapa ‘pengalihan’ yang diberi Tuhan juga sungguh luar biasa, salah satunya ialah sebuah masa di New York. Thanks God for it.

Tapi pengalihan adalah pengalihan. Luka tetaplah luka. Entah kenapa, lukanya tidak juga mengering meski diguyur jutaan kejadian dalam rentang satu tahun. Mengutip kata Bella, “when he left, he took everything with him. But the absence of him is everywhere I look. It’s like a huge hole has been punched through my chest.”

betul. persis seperti itu. ada lubang menganga, lagi dalam, tepat di jantung. bahkan mengingatnya pun masih nyeri.

kata orang, saya belum ikhlas. Ya, benar. Saya rasa itu. Meski jutaan kali saya menghipnosis diri sendiri dan meyakinkan diri semua sudah dilepaskan-

kata orang, langkah saya akan tertahan jika tetap menyimpan luka. -well, bukan saya yang mau menyimpan sakit ini. Amit amit.. saya pun ingin segera kembali tertawa dan menganggap semua tidak pernah terjadi-

tapi saya rasa, saya berkompromi saja dengan kondisi ini. manusia punya daya tahan luar biasa. meski luka tak sembuh, tapi saya bertambah kuat merasai nyerinya jika sesekali ngilu -karena mengingat tanpa sengaja, misalnya-

saya ikhlas dengan luka ini. ikhlas jika tidak pernah sembuh. karena kaki saya semakin kuat melangkah sekarang dan lebih bertenaga untuk tetap menjadi diri sendiri.

I have my own Jacob Black :D

dan semua yang dulu terasa melodramatis itu, -rasa senang berlebihan ataupun derai airmata yang deras- kini ternyata lebih indah dalam kesederhanaan. cinta itu, nyatanya memang enggak butuh banyak pengorbanan.

permalinks dan httaccess yang hilang

saya baru ngerasain, ternyata file .htaccess dalam folder public_html bisa hilang.  Anda pernah merasakan hal serupa?

Baca Lanjutannya…

Langsung Ngeblog dari Flickr

Kolaborasi Flickr dan layanan blog memudahkan saya untuk posting foto langsung dari Flickr. Nge-set nya juga gampang. Caranya?

Baca Lanjutannya…

digital printing, rawabelong

bisnis cetak mencetak masih jauh dari kata punah. digital printing juga semakin bersaing dengan percetakan offsett.

untuk jumlah besar, tentu saja offsett sangat mantap. tapi untuk jumlah sedikit dan waktu yang singkat, digital printing bukan pilihan buruk.  jangan malas untuk survey. sometimes we get surprise. seperti saya… Baca Lanjutannya…

business soulmate(s)

meeting with a friend.

kali ini bicaranya fokus: sebuah prospek proyek baru terkait penulisan aplikasi yang didukung sebuah sistem operasi mobile. apalagi suasana cukup mendukung. brainstorming kami terjadi di Toast, lantai 9 Plasa Semanggi.
cozy, dan gag terlalu hingar bingar seperti di lantai 10.

namun, sefokus-fokusnya kita, tetep aja kepikiran macem-macem ide untuk aktivitas lainnya. hehehe…

saya, sama seperti dia, suka dan sering mikir loncat-loncat. kalau lagi mikirin satu hal, tetep aja kepikiran banyak hal. dan mungkin itu juga yang kadang-kadang mempengaruhi fokus. :D

tadinya saya pikir itu buruk. saya mengalamatkan semua penyebab ketidakmaksimalan saya kepada hal itu: enggak fokus. tapi kemudian, saya pikir itu salah.

bow, emang saya mampunya mikir loncat-loncat. mikirin ide ini, kepikiran ide itu. masalah aplikasinya, well, saya memang cepet berhenti jika itu tidak menantang lagi atau jika ternyata kemudian kerjaan saya jadi berjibun. (biasanya saya berhenti untuk alasan kedua).

then finally I found my business soulmates. iya, soulmate(s) karena emang banyak. lebih dari satu. dengan kemampuan beragam dan karakter yang berbeda-beda.

so, pointnya mungkin menermukan business soulmates itu. yang memahami akselerasi dan kegelisahan kita dan bisa membuat kita bertoleransi juga dengan segala kekurangannya.

thx god.. i found some.

Anda?

back to my old blog

inkonsistensi saya makin konsisten. bulak balik bikin blog baru, balik ke blog lama, parah.

im in overload

im in overload. too much information.

yup.. aku rasa, siapa yang enggak overload dengan segala yang serba cepat seperti saat ini? Baru buka mata, di tv udah ada berita. udah ada running text yang wira-wiri di layar bagian bawah. baru login facebook, status teman sudah bermacam-macam. belum buka portal berita online. belum blog walking. fiuuh….

apalagi beberapa bulan terakhir ketika suhu politik makin memanas. ketika sejumlah elite asik adu strategi dan asik koalisi. demi kepentingan bangsa, katanya. How do they sure? hm.. how do we sure?

so, being uninformed could be some luxuries nowdays.

tapi beberapa teman merasa berdosa sekali mematikan ponsel. apalagi terkait pekerjaan dan bisnis. rasanya bersalah jika tidak bisa dihubungi. bagaimana dengan Anda?

now she has her new battlefield

akhirnya, setelah berhari hari ngebatin, akhirnya saya bertemu jeng aktivis tercinta yang kini beranak satu. hehehe…

tanpa sengaja, di suatu sore, di kantor. saat saya asyik menyesap coffe cream dan wenwen minum coke yang brrrrrr.. dia baru masuk hari in setelah cuti panjang.

dia bertambah gemuk – tentu saja, karena anaknya baru 2,5 bulan-

dia tidak kehilangan selera humor, dan selera bercerita.

dulu, perempuan ini jauh-jauh ke new york buat ikutan konferensi perempuan, tentang ratifikasi hak perempuan dan sejenisnya lah..

dan kini ia seru bercerita… “aduhhh aku bete banget mesti ikutan arisan. males males males.. orang-orangnya itu low bowww… ya ampun..”

hihihi…saya mulai bisa menebak arah kekeasalannya.

“Iya bow.. ada tetangga belum kawin, di omongin. eh kok mbak itu belum kawian-kawin juga ya…”

atau

“Wah mbak,… anaknya berapa kilo? anak saya udah 6 kilo, dong”

atau pernyataan-pernyataan sejeis itu yang bernada membandingkan, menyalahkan, menghakimi dan mengurusi urusan orang.

“aduh.. aku tuh gemes banget. emang semua orang harus nikah? emang semua orang nikah harus punya anak??”

jeng aktivis geram. tapi ia pilih diam. karena gak enak kalo suaminya denger “aduh istri bapak teriak teriak ngomongin anti diskrimiasi perempuan di arisan”

hehehe.. she really has a new battlefield

just…

i am what i thought.   i am what i thought.

2007. picadilly circus-london. i love my self to be alone that day. feel so blessed for being in london. then i found that sign, with my nickname:ICA, on it.

now 2009. im in my cubicle. start thinking, now what?

i still have my long road to enjoy. long story to happy with. bunch of thing to achive and million choices to decide.

i miss japan tonight

belum pernah deh, ngerasa kangen sama suatu tempat seperti kangen ama jepang. hiks.

padahal aku gak lama disana. padahal aku gak punya siapa-siapa juga disana. atau sebetulnya ini cuma masalah gambaran mental.

dulu dapat kesempatan ke jepang saat hati kalut gundah gulana.

kini, saat kondisi hati yang sama berulang, rasanya pengen pergi ke sana. makan yakitori dan minum sake. hehehehe. berlama lama menikmati akihabara. ugh ugh…

lalu saat pulang, semuanya kembali normal dan kembali indah. semua tangis tersapu tawa.

-ugh-