devenport
ini tentang sebuah kota kecil, sekitar 10 menit perjalanan ferry dari auckland.
cukup membeli tiket pulang pergi seharga NZ9, dan bebas pulang dari devenport jam berapa aja (paling telat 21.30).
Tadinya, cuma berniat dua-tiga jam di devenport. cuma pengen tau, seperti apa suburb auckland. dan menyeberang pake ferry, dengan angin dingin dari hari yang agak mendung, emang bikin batuk gak bakal sembuh-sembuh. tapi toh, dengan semangat, gue tetap memilih duduk di deck.
liat jejak kapal mecah perairan tenang itu, kok suddenly inget teluk cenderawasih ya. hahahaha…padahal jauh banget sih. karena perairan ini, jenis perairan ramai. ferry jurusan devenport-auckland aja wira-wira per lima belas menit. belum lagi yang ke rangitoto island, atau waiheke.
cuma enggak tau lah.. kenapa kok ingetnya perairan teluk cenderawasih yang tenang itu.
beberapa turis juga milih duduk di deck. sementara penduduk asli, ya gak ikutan norak duduk di luar.. hahaha… secara emang dingin banget, so mereka milih duduk cool di dalem sembari makan siang atau baca koran.
sampe di devenport, gue dengan cepat jatuh cinta. hihihi.. so typical of me. gue selalu jatuh cinta ama kota kecil, dengan toko-toko dan kafe yang berderet di jalanan utama deket pelabuhan kecil, lalu ruas jalan yang cukup dua mobil dan pedestrian yang berbagi dengan meja-meja resto tempat orang makan. juga bangku-bangku menghadap pelabuhan, menontoni ombak yang pecah di pantai, juga anak-anak kecil yang belajar membedakan kerang dan pecahan batu biasa.
kota kecil yang tenang, yang kayaknya sik banget kalo gue punya satu rumah di daerah bukitnya gitu, trus ada jendela lebar ngadep laut.. tsahhhh…. bener-bener hidup seorang penulis yang gue bayangin. ck ck ck….
dan begitulah devenport. ada delman kuda poni yang nunggu di depan pelabuhan, siap mengantar Anda keliling kota. hehehe.. kota kecil segede komplek perumahan yang sangat beeesar. dengan satu toko besar ala carefour, lima toko buku baru dan bekas, toko rajut, toko buah-buahan, galeri, resto, kafe-kafe gaya inggris, dan toko baju.
ada satu galeri, departemen of doing. idenya, mereka menampung ide kreatif siapapun lalu mewujudkannya hingga menjadi produk. tentu saja, ide itu harus menang penilaian. but they do a nice thing, rite? kebanyakan, produk-produk kreatif berupa hiasan interior atau kemasan kreatif.
lalu ada berber shop khas kota kecil, yang sekaligus menjadi papan pengumuman untuk warga kota. mulai dari iklan jualan rumah, jualan mobil sampe nawarin jasa babysitter. bahkan ada yang ngajakin travel bareng ke brisbane. hehehe…. pengumuman-pengumam kecil itu dipasang di kaca barbershop, jadi banyak orang berdiri mbaca disana.
toko-toko bukunya juga mengagumkan. satu favorit gue ialah evergreen. tokonya gede. begitu masuk, di tengah ada tangga putih ke lantai dua. di bawah tangga, rak-rak buku penuh ama buku 2nd. toko itu emang khusus jualan buku lama. edisi pertama buku-buku karangan michael proust (swan’s way) , atau emma-jane austeen, bahkan buku-buku cetakan pertama agatha christie bisa didapet disini. harganya, ya mahal. secara itu buat koleksi. hehehe..
tapi banyak buku 2nd yang murah. kayak deretan karya pulitzer book prize lah, kayak orhan pamuk or arundhati roy. harganya drop 50-70% dari harga asli. sekitar 50- 60 ribuan dengan kondisi buku bagus.
keluar dari toko buku, bisa nemu toko rajut. benangnya macem-macem kebanyakan produksi lokal dan asutralia. lalu, toko souvenir nya pun lebih asik ketimbang toko souvenir yang kebanyakan ada di auckland. ada sabun kiwi atau sabun madu, dengan kemasan lucu. trus paper clip domba atau kiwi, dan made in NZ. bukan china or vietnam loh ya.
kafe-kafe yang berjajar sepanjang jalanan utama, juga menarik buat dikunjungi loh. sekedar minum kopi ama liat orang lalu lalang.. haha.. thats my favorite things to do.
atau mau duduk diem-diem di bangku nagdep laut? cihuy banget juga.
toh, ni kota sepi-sepi aja. mungkin kebanyakan penduduknya emang kerja di auckland, jadi pas gue dateng jam2 12an gitu, yang keliatan ya justru pendatang yang lagi berlibur. kebanyakan backpacker, lalu orang-orang tua dan keluarga piknik dengan anak-anak mereka asik main perosotan di taman deket pelabuah kecil.
hm.. damai banget. tipikal ubud yang tenang, tapi ubud terlalu eksotik sih. karena devenport bukan daerah penghasil karya seni, lah. just a simply peacefull place to stay. membaca buku dengan iringan suara ombak dan sesekali angin dingin, tentu menimbulkan persaan berbeda dooong?
penataannya juga rapi. dan bikin betah banget.
mengelilingi kota ini juga gak butuh waktu lama. jalan aja muter, paling satu jam dengan kecepatan jalan sangat rendah dan santai. naik ke atas, ke mount victoria, cuma butuh 15 menit perjalanan mendaki yang tak tajam.-soalnya jalanan ke atasa dah di aspal dan cukup landai meski bikin ngos-ngosan-
sampe diatas, keliatan satu devenport. pandangan 360 derajat bebas liat mana aja.
rumah-rumah bercat warna lembut. hijau, kuning, putih.
1 Komentar
Komentar RSS Lacak Balik URI Pengenal
Tinggalkan komentar

not complete without photos, hehe…asyiknyaaa..met jalan2 yahhh