akhirnya, setelah berhari hari ngebatin, akhirnya saya bertemu jeng aktivis tercinta yang kini beranak satu. hehehe…
tanpa sengaja, di suatu sore, di kantor. saat saya asyik menyesap coffe cream dan wenwen minum coke yang brrrrrr.. dia baru masuk hari in setelah cuti panjang.
dia bertambah gemuk – tentu saja, karena anaknya baru 2,5 bulan-
dia tidak kehilangan selera humor, dan selera bercerita.
dulu, perempuan ini jauh-jauh ke new york buat ikutan konferensi perempuan, tentang ratifikasi hak perempuan dan sejenisnya lah..
dan kini ia seru bercerita… “aduhhh aku bete banget mesti ikutan arisan. males males males.. orang-orangnya itu low bowww… ya ampun..”
hihihi…saya mulai bisa menebak arah kekeasalannya.
“Iya bow.. ada tetangga belum kawin, di omongin. eh kok mbak itu belum kawian-kawin juga ya…”
atau
“Wah mbak,… anaknya berapa kilo? anak saya udah 6 kilo, dong”
atau pernyataan-pernyataan sejeis itu yang bernada membandingkan, menyalahkan, menghakimi dan mengurusi urusan orang.
“aduh.. aku tuh gemes banget. emang semua orang harus nikah? emang semua orang nikah harus punya anak??”
jeng aktivis geram. tapi ia pilih diam. karena gak enak kalo suaminya denger “aduh istri bapak teriak teriak ngomongin anti diskrimiasi perempuan di arisan”
hehehe.. she really has a new battlefield
No Comments Yet
Belum ada komentar.
Komentar RSS Lacak Balik URI Pengenal
Tinggalkan komentar
